Blogger Widgets MATERI ISBD | RINI .alert { background: #DDE4FF; text-align: left; padding: 5px 5px 5px 5px; border-top: 1px dotted #223344;border-bottom: 1px dotted #223344;border-left: 1px dotted #223344;border-right: 1px dotted #223344;}

My Facebook

Facebook
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label MATERI ISBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI ISBD. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Maret 2014

Manusia sebagai Makhluk Budaya



MATERI ISBD
BAB  II

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5muWeY5E2_AwtJfLSp3bi311Lk0b_JVM0ABDNn2ZZFtOzSuKDIJvZhdO98TOU_iVipS8cW7KO4UaAityXf_oBJDZPFfxruDfhNxGlTWBCE3jG-uTuD7-A-Q9xTlV-qG7xkazG1ci7ouNE/s1600/manusia+n+kebudayaan.jpg
Manusia sebagai Makhluk Budaya

1.       Pengertian dan Fungsi Kebudayaan
Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu social. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara social diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya merujuk pada bagian tertentu warisan social, yakni tradisi sopam santun dan kesenian. Istilah kebudayaan ini berasal dari bahasa latin Cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang atau tumbuh.[1]
Dalam ilmu-ilmu social istilah kebudayaan sesungguhnya memiliki makna bervariasi yang sebagian diantaranya bersumber dari keragaman model yang mencoba menjelaskan hubungan natara masyarakat, kebudayaan dan individu.

Manusia dan Peradaban



MATERI ISBD
BAB III

Manusia dan Peradaban


1. Pengertian Adab dan Peradaban.
            Para ilmuwan memiliki banyak konsep atau pengertian mengenai adab dan peradaban. Namun ada beberapa konsep atau pengertian mengenai adab dan peradaban yang mungkin relevan dan dapat membantu mahasiswa di Indonesia agar dapat memahami konsep atau pengertian tersebut.
Adab berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Manusia beradab dengan demikian adalah manusia yang mempunyai akhlak mulia, yang memiliki kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Sedangkan manusia yang tidak mempunyai akhlak mulia, yang tidak memiliki kesopanan dan tidak halus budi pekertinya, maka kita akan menyebut manusia tersebut biadab. Tetapi masalah yang muncul kemudian adalah, siapa yang memberikan ukuran manusia tersebut beradab atau biadab ?.

Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial



materi isbd

BAB  IV
Manusia sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial

1. Manusia Sebagai  Makhluk Terbaik Ciptaan Allah.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna kejadiannya. Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai perangkat kelengkapannya yang kompleks. Kesempurnaan kejadian manusia difirmankan oleh Allah dalam Surat At Tiin ayat 5, yang artinya: “Sungguh Kami ciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Harus diakui dan disyukuri bahwa kejadian manusia dilihat dari dimensi apapun apabila dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan Allah, maka keberadaan wujud manusia sungguh teramat baik. Selain unsur kelengkapan rohani yang berupa akal, rasa, dan kehendak, secara jasmani keberadaan tubuh manusia juga mengandung unsur-unsur nilai estetika (keindahan). Meurut teori keindahan suatu benda dikatakan indah kalau mengandung setidaknya 3 unsur, yaitu contrast (pertentangan), simetry/balance (keserasian/keseimbangan), dan unity (kesatuan).

Manusia, keragaman dan kesetaraan



MATERIISBD
 BAB  V
Manusia, keragaman dan kesetaraan

1. Pengertian Keragaman dan Kesetaran.
Keragaman dapat diartikan dengan suatu hal yang “banyak macamnya”, “beda” antara satu dan yang lainnya dan sifatnya tidak tunggal. Sedang kesetaraan dapat diartikan sebagai “sama”, “tidak berbeda” atau “sederajat”. Beberapa istilah yang dianggap sesuai dengan keragaman salah satunya ialah pluralitas (plurality) yaitu suatu konsep yang mengandaikan adanya “hal-hal yang lebih dari satu”[1]. Sisi lain pluralitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan (keunikan) dan kekhasan. Karena itu, pluralitas tidak dapat terwujud atau diadakan atau terbayangkan keberadaannya kecuali sebagai objek komparatif dari keseragaman dan kesatuan yang merangkum seluruh dimensinya.
Pluralitas juga tidak dapat disematkan kepada kesatuan yang tidak mempunyai parsial-parsial, atau yang bagian-bagiannya dipaksa untuk tidak menciptakan “keutamaan”, “keunikan” dan “kekhasan” tersendiri. Anggota suatu keluarga adalah bentuk pluralitas dalam rangka kesatuan keluarga dan sebagai antitesis darinya. Pria dan wanita adalah bentuk pluralitas dari kerangka kesatuan jiwa manusia. Bangsa-bangsa adalah bentuk pluralitas jenis manusia[2]. Tanpa adanya kesatuan yang mencakup seluruh segi maka tidak dapat dibayangkan adanya kemajemukan, keunikan dan kekhasan atau pluralitas itu. Demikian juga sebaliknya.

Manusia, Moralitas dan Hukum



MATERI ISBD


http://susianty.files.wordpress.com/2010/09/etika1.png
BAB VI
Manusia, Moralitas dan Hukum

1. Pengertian Nilai, Moral dan Hukum.
Nilai.         
Nilai dianggap penting dalam kehidupan manusia, hal ini disebabkan seseorang di dalam hidupnya tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai. Oleh karena itu, nilai-nilai ini implementasinya sangat luas, dapat ditemukan pada berbagai perilaku yang terpilih dalam berbagai kehidupan yang luas di alam semesta ini. Jadi, pemahaman akan konsep nilai dianggap penting dalam upaya untuk mengerti dan memahami pentingnya nilai bagi kehidupan manusia.
Nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Jadi nilai itu pada hakekatnya adalah suatu sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri. Sesuatu itu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu. Contohnya adalah baju itu indah, maka arti indah adalah sifat atau kualitas yang melekat pada baju. Dengan demikian maka nilai itu sebenarnya adalah suatu kenyataan yang tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan yang lainnya.
Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan dan keharusan. Maka apabila kita berbicara tentang nilai, sebenarnya kita berbicara tentang hal yang ideal, tentang hal yang merupakan cita-cita, harapan, dambaan dan keharusan. Jika berbicara tentang nilai berarti masuk pada bidang makna normatif, bukan kognitif, masuk ke dunia ideal dan bukan dunia real. Meskipun demikian diantara keduanya, antara yang makna normatif dan kognitif, antara dunia ideal dan real, itu saling berhubungan atau saling berkait erat. Artinya yang ideal harus menjadi real dan yang bermakna normatif harus direalisasikan dalam perbuatan sehari-hari yang merupakan fakta.
Terdapat batasan nilai (tentatif) dari beberapa pendapat mengenai konsep nilai yaitu nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau segala sesuatu yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.
            Dalam memahami lebih jauh mengenai konsep nilai, maka Notonagoro membagi nilai menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
1)      Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia, atau kebutuhan material ragawi manusia.
2)      Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
3)      Nilai kerokhanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerokhanian ini dapat dibedakan atas empat macam :
a)      Nilai kebenaran, yang bersumber pada akal (ratio, budi, cipta) manusia.
b)      Nilai keindahan atau  nilai estetis, yang bersumber pada unsur perasaan (esthetis, gevoel, rasa) manusia.
c)      Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak (will, would, karsa) manusia.
d)     Nilai religius, yang merupakan nilai kerokhanian tertinggi dan mutlak. Nilai religius ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.

Manusia, sains, teknologi dan seni



materi isbd

http://3.bp.blogspot.com/-gD9A7ffj458/UZHwAaaJUEI/AAAAAAAAAYM/07pdgCv5pOw/s1600/teknologi1.png

BAB VII
Manusia, sains, teknologi dan seni

1.      Pengertian sains, teknologi dan seni
Sains
Sains berasal dari bahasa latin Scire, artinya mengetahui dan belajar. Kata sains diindonesiakan menjadi ilmu pengetahuan. Sains adalah pengetahuan yang sistematis. Lebih jauh sains dapat dirumuskan sebagai himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian dan dapat diterima oleh ratio.
Dalam pemikiran barat, sains memiliki karakteristik yaitu, obyektif, netral dan bebas nilai, sekalipun diakui berpijak dari system nilai, tetapi sains bebas dari pertimbangan-pertimbangan nilai.[1]

MANUSIA DAN LINGKUNGAN



MATERI ISBD

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZO_s_PWP6h-BNpv_oOOTAZp6oS1WTVd91UnQ1wpPcib-5vuET6U53yhWYvEUn1nhOuQsuGk1rgzTWvbhI24y6l8qJvmNNPFh1D5ptYtT-6nDLsqy1FPtxjS5g_7iuD2R39lX3jewIfms/s1600/Untitled.png
BAB VIII
Manusia dan lingkungan

1.      Hakekat Lingkungan Sosial Dan Alam Bagi Manusia
Manusia hidup di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk lain, yaitu tumbuhan, hewan dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain bukan sekedar  kawan hidup yang hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup manusia itu terkait erat pada mereka. Tanpa mereka manusia tidak dapat hidup. Kenyataan ini dapat dengan mudah kita lihat dengan mengandaikan jika di bumi ini tidak ada tumbuhan dan hewan. Dari manakah kita mendapatkan oksigen dan makanan? Sebaliknya seandainya tidak ada manusia, tumbuhan, hewan, dan jasad renik akan tetap dapat melangsungkan kehidupannya, seperti terlihat dari sejarah bumi sebelum ada manusia.